Kayaknya aku mulai sadar dan mikir deh tentang sikap anehnya seorang teman aku, sebut aja dia Kedongdong. Bukan aku mencampuri urusannya. Hanya saja dia benar-benar udah merugikan perasaanku :) (Cieeylah tahu apa sih tentang perasaan?) Ya, bagimanapun Ratih juga kan manusia biasa yang diberi kesempatan untuk merasakan dan memikirkan sesuatu.
Disini aku cuma curhat aja dari pengalaman aku. Aku sadar betul aku masih dengan segala kekurangan dan keterbatasanku. Aku hanya berbagi dan mengambil hikmah dari masalah yang aku alami sendiri.
Ceritanya begini (ini ceritanya lagi nostalgiaan tentang masa lalu ya). Bagaimanapun juga aku salut deh dengan kegigihannya dia untuk mengalahkan dan menjatuhkan aku :)
Eittss, belum juga ngerti kan?
Kedongdong itu adalah sahabatku sampai akhirnya dia kalahin aku dipertandingan menurutnya, lalu aku menyebutnya dia hanya seorang teman saja untuk aku. Jujur dari semua modusnya aku sadar betul bahwa semua strateginya itu hanya sebuah kamseupay di mata aku. Seiring dia mencari taktik dan cara untuk mengalahkanku semakin aku merasa diriku menang dan maju melangkah ke depan. Berat banget, aku hanya dengan seribu diam emasku. Sementara dia dengan seribu mulut embernya.
Awal mula ceritanya, tentang kejujuran dan niat baik. Lalu aku meraih sebuah penghargaan menjadi siswa terbaik pertama selama menjalani pendidikan di rumah putih abu-abu ku. Tidak ada yang boleh disombongkan, malah dengan itu aku harus terus berusaha dan berusaha untuk tetap mempertahankan prestasiku bahkan kalau bisa meningkatkannya menjadi lebih baik lagi. Seperti kata pepeatah, "semakin padi berisi, maka semakin merunduk". Tandanya kepintaran dan kegigihan seseorang itu bukan berarti untuk di tengadahkan atau kita sebut aja takabur atau sombong. Ya, karena menurutku pribadi itu bukan hal yang pantas bagi seseorang yang berilmu. Jangan jauh-jauh deh, ga musti yang berilmu orang yang punya seribu kekayaannya aja ga pantas kok menyombongkan diri, karena semua milik Tuhan yang dititipkan melalui kita. (lha, kok jadi ceramah)? Ngga kok, itu cuma intermeso aja :)
Baik deh, aku lanjut. Berkat penghargaan itu engganya ada kebanggan tersendirilah atas kerja keras dan jerih payah ku selama ini. Cuma masalahnya sekarang, Si Kedongdong lagi-lagi bikin sensasi buat mancing emosi. Setelah itu, gak tahu deh dia mau apa lagi?
Aku inget banget, ketika aku masih duduk di bangku kelas X, XI, sampai kelas XII sensasi dia terus mengalir bagai air comberan tapi kadang-kadang mampet sih karena banyak sampah yang menggulung di jalannya dia :) (waaaw, it's magic).
Aku kasih tahu salah satu contoh sensasi yang dibuat Kedondong ke aku.
Dulu, 2/3 tahun yg lalu, aku pernah punya cowok satu sekolahan sama aku. Hubungan kita cuma berjalan kurang lebih satu tahun, itu karena aku tertipu oleh Alibinya Kedondong. Iya kan aku bilang dia sahabat aku dulu, sebelum sampai akhirnya aku rasa nggak lagi.
Mungkin kalian pernah denger ya, istilah musuh dalam selimut? Ya aku pernah ngerasainnya kok. Kalau diperkirakan hampir 45% dari 3 tahun aku alami itu. (Ciela so iye banget sih).
Ya, serius deh. Waktu aku adem-ademnya hubungan sama dia sebut aja si Mangga cowok aku waktu aku di rumah putih abu-abu. Tiba-tiba Kedondong bikin rumor yang nggak bermutu tentang aku didepan banyak orang. Dan yang paling mengejutkan dia memberanikan diri buat laporin rumor itu ke orangtua aku. Tapi, lewat perantara. Dia nyuruh Tante aku waktu itu buat sampein rumor ga benar tentang kehidupan aku di sekolah ke orangtuaku, tapi dia nyuruh Tante aku buat ngga ngasih tahu siapa penyebar rumor gak jelas itu. Jadi maksudnya dia mata-mata tak bermata.
Dia bilang gini, yang aku tahu dari orangtuaku, orangtuaku kata Tante ku. Aku dituduh sering mojok di sekolah, pacaran terus, keterlaluan, dan sering pegangan tangan di kelas. Whatzz?????
Helo, Kedongdong yang luarnya alus dalamnya ancur dan berduri kayak kawat. Alibimu itu iyuuuw banget. Masalahnya kayak aku nggak tahu kamu aja. Tingkah laku kamu setalah aku jadian sama si Mangga jadi berubah 180 derajat, and it's so make me surprised and always question question, why you so ....... so so an. :)
Aku tahu kok, diam-diam kamu suka smsin si Mangga. Aku ga masalah sih dia kayak gitu, yang saat itu jadi masalah kenapa dan maksudnya apa sampai memberanikan diri ngadu dan nyebarin gosip nggak bener ke orangtua aku.
Aku sempat ditegur, disidang, di inter view sama mereka. Bener nggak aku kayak gitu? Ya, aku jawab dong yang jujur sejujurnya. Aku bilang aku memang pernah berdua sama si Mangga, but when I and her berdua kita sambil pegang buku, Say. Kata ku. Demi tuhan aku gak pernah megang tangan cowok, sama si Mangga aku gak pernah sekalipun. Apalagi ampe yang berlebihan begotu. It's not me!
Adapun aku berdua sama dia adalah diskusi tentang pelajaran, selamanya sampai aku buabaran sama dia. Dia main ke rumah tuh cuma buat ngajarin atau jadi guru privatenya aku.
So, Alibi mu itu kamseupay banget Dongdong.. . Ckckckc
Kalau dulu aku gak bisa jawab apa maksud kamu kayak gitu. Tapi seiring sensasi demi sensasi yang dia buat lalu aku selalu dilibatkan didalamnya, aku jadi ngerti sekarang.
But, aku adalah makhluk Zoon Politicon. So, aku gak akan nunjukin sikap gak suka aku sama kamu. Karena aku gak kamseupay :)
Rememeb. that!
5 Juni 2012
3 Juni 2012
Hujan Yang Membawa Kabar
Aku bangun suatu pagi, itu berarti aku masih diberi kesempatan untuk bersyukur dan berbuat amal baik di hari ini sampai senja tiba dan aku tertidur kembali dalam gelapnya fajar.
Aku direnungi seribu kabar dan peristiwa yang berhembus sepoy sampai ke tulang. Sungguh terkadang gila memikirkannya.
"Ratih, kamu tuh ternyata bla bla bla bla ya? Kamu tuh ngga tahu bla bla bla bla ya?"
"Ratih, kamu tuh ternyata bla bla bla bla ya? Kamu tuh ngga tahu bla bla bla bla ya?"
Banyak, jadi sorot pandang sebagai orang yang pendiam dan pemalu, atau terkadang diam-diam menghanyutkan. Sebisa-bisa mereka memvonis tentang karakter atau image aku.
Tercengang perih saat seseorang melantunkan kata dengan mirip sindiran yang tidak menyenangkan hati. Namun, bagaimana lagi? Namanya sebuah kehidupan nggak selamanya orang setuju dengan kita.
Aku hampir mati saat aku kena musibah, salah satu teman menuduhku yang tidak-tidak dan berhasil mempropokatori teman-teman yang lain agar membenciku.
Saat itu sungguh mulutku bisu dan tiada daya berucap apa-apa. Aku hanya menerima sindiran demi sindiran yang terus terbisik dalam pendengaranku. Padahal aku tahu yang sedang mereka paparkan tidak benar adanya. Sepulang dari bisikan-bisikan sadis itu, aku hanya meneteskan air demi air yang jatuh mengkristal dari rapuhnya mataku.
Aku hanya bertanya kepada Tuhan -_- "Kenapa aku hanya diam? Kenapa Tuhan tidak memberiku kekuatan yang hebat untuk melawan semua ketidak-benaran ini?"
Sampai kedua kelopak mataku membengkak tak menjadi indah seperti biasa. Lalu dibalik tirai jendela kaca kamarku terlihat juga hujan mengikuti tangisanku dengan sedikit petir menggeligap. Saat itu seperti menjadi pesona indah bioma alam dengan kristal hujan yang jatuh dalam dinginnya malam.
Aku serasa menjadi sejuk ketika hujanpun ikut menangis merasakan kesedihanku. Lalu aku bertanya lagi dalam batin, "Tuhan mengapa Kau hanya kirimkan hujan yang tak memberi jawab atas tanyaku?" Hujan hanya terus turun dan petir menyambar dengan pesona kilatnya yang menjadi kalem saat itu sepertinya aku sedang diberi teguran atas pertanyaanku. Meski sampai detik itu aku belum juga mengerti mengapa Tuhan hanya mengirimkan hujannya atas tanyaku.
Hingga aku letih memikirkannya lalu aku terbaring dalam lelapnya tidurku. Tak terdengar suara lagi setelah itu bahkn tak terpikirkan sesuatupun yang berat seperti sebelumnnya.
Sampai fajar kembali terbit dan ayam mengikuti langkahnya dengan kokoknya yang nyaring, aku membuka mata perlahan, hal yang sama seperti kemarin, pagi ini aku kembali bersyukur lagi karena diberi kesempatan menghirup udara segar hari ini.
Kulanjutkan lagi kaki melangkah, dan berharap peristiwa kemarin hanya mimpi yang sudah selesai dalam sekali aku memejamkan mata. Namun kali ini saat kutemui lebih banyak orang, aku merasa hal yang aneh lagi-lagi rasanya seperti aku ini diasingkan.
Rasanya hari ini lebih parah dari yang kemarin, yang hanya beberapa orang mampu meliriku dengan tolehan sindiran. Aku semakin tak mengerti.
Aku diam sejenak dan sebentar lagi air mataku akan jatuh membanjiri pipi. Tapi ku sadar betul ini bukan tempat yang benar untuk menangis, karena dengan begitu aku menunjukan kelemahan dalam keadaan yang sempit ini.
Aku hanya merenung lagi memajaskan turunnya hujan dan petir semalam tadi. Hujan membawa kabar teguran dari Tuhan atas aku yang menyalahkannya. Pikirku seketika.
Aku diam karena aku tak mencoba untuk berdiri menyalami masalah, bukan karena Tuhan tak memberiku kekuatan untukku. Lalu hujanpun menangis dan petir menggelegar menegurku. Itu jawab atas pertanyaanku.
Karena : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum ia merubahnya sendiri."
Ya, kali ini aku harus mampu melangkahkan kaki untuk menyalami permaslahan ini dengan hangat.
Aku diberi kekuatan atas niatku untuk memperbaiki keadaan.
Aku melangkahkan kaki untuk menyelesaikan masalah nan kian rumit bila hanya terdapati diam dan diam. Dengan caraku aku mampu melampaui masalah itu dan menciptakan sebuah hikmah dan ppelajaran untuk diriku sendiri dan dirinya.
Terbukti, dia khir cerita satu alunan nada dalam kesadarannya. "Maaf yang tiada duanya!"
Dan ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Mengejar Mimpi dalam Do'a ^_^
Udah sejauh ini dan sebesar ini. Rasanya memang ada sedikit perubahan ya. Terutama dari fisikal sama yang bersifat mental. Apalagi sekarang udah mau masuk kuliah (hehe, tapi belum sih baru mau test snmptn tulis doang), aku berharap banget bisa keterima di Universitas yang aku cita-citakan selama ini.
Mungkin, selama ini aku hanya mundar-mandir di kampuang halaman. Tapi aku yakin betul, aku juga bisa beradaptasi di kampuang nan jauh di mata untuk meraih cita-cita yang selama ini ada di depan mata.
Terkadang, dalam sebuah kehidupan semakin jauh kaki melangkah semakin banyak wawasan. Mungkin itu bisa menjadi motivasi tersendiri buat aku bisa jalani kehidupan yang sebenarnya.
Meski kata Bapak, aku tuh masih manja, belum mandiri, tapi nanti akan buktiin kok, Pak! :)
Percaya deh, Ceuceu akan selalu memberikan yang terbaik kok, buat Bapak dan Mimi selamanya. Seluruh nafas ini Ceuceu hembuskan untuk Bapak dan Mimi yang udah menaburkan sejuta kasih sayang dan pendidikan yang tepat untuk Ceuceu.
Ceuceu, selalu ingat pesan Bapak, "Hidup jangan bergantung pada oranglain." Insyallah ^_^ Ceuceu akan semampu mungkin menjalankan semuanya sebisa Ceuceu dulu dan janji tidak akan merepotkan oranglain, kecuali benar-benar mendesak :D
Semanagat Ceuceu selalu membara ketika kobaran kasih sayang Mimi dan Bapak selalu terkibar atas-atas. Do'a-do'amu menjadi sebuah dukungan yang abadi dalm mempermudah lalu langkah kaki ini.
Love you Mimi, Bapak! :)
Langganan:
Komentar (Atom)
